Ini Dia, Bahaya Konsumsi Daging Ilegal

0
10
https://kaltara.prokal.co/read/news/37073-ini-dia-bahaya-konsumsi-daging-ilegal

TARAKAN – Masih banyaknya daging Alana ilegal yang beredar di pasaran setiap tahun, khususnya menjelang perayaan Idulfitri, membuat pemerintah mengimbau masyarakat agar tidak membeli daging yang tidak resmi tersebut. Hal itu disebabkan lantaran daging ilegal diduga tidak memiliki jaminan kehigienisan karena diyakini tidak disimpan dalam suhu tertentu.

Saat dikonfirmasi, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kaltara, dr. Franky Sientoro menerangkan, meski pihaknya tidak dapat menyimpulkan kehigienisan daging yang di jual di pasaran, namun ia memperingatkan bahayanya mengonsumsi daging yang tidak higienis. Apalagi, konsumsi yang dilakukan dalam jangka waktu panjang.

“Pertama, posisi menetapkan standar penyimpanan daging untuk keamanannya itu menjadi ranah BPOM, tetapi saya sebagai dokter dari IDI, mengatakan bahwa salah satu tempat kuman yang sangat cepat berkembang ada pada daging, selain telur. Jadi kalau memang daging ini tidak disimpan sesuai standar yang ditetapkan maka daging ini bisa menjadi sarana pertumbuhan kuman dan bakteri yang berbahaya,” ujarnya, Senin (26/4).

Ia menerangkan jika dampak dari mengonsumsi daging tidak higienis dapat menyebabkan infeksi pada organ tubuh. Sehingga hal tersebut dapat pemicu baik keluhan ringan bahkan menyebabkan penyakit berat seperti kanker jika dikonsumsi secara terus menerus.

“Dampak mengonsumsi daging tidak higienis dari yang ringan seperti diare atau gangguan pencernaan lainnya. Kalau dikonsumsi dalam waktu jangka panjang dalam artian terus menerus maka ini bisa menimbulkan penyakit pada tubuh kita karena dapat menyebabkan infeksi pada salah satu organ. Oleh karena itu banyak penyakit berasal dari makanan yang kita konsumsi sehari-hari secara terus menerus,” terangnya.

Selain itu, pemindahan komoditi konsumsi hewani maupun hasil alam harus melalui proses yang ketat sampai dapat masuk dalam sebuah daerah. Dijelaskannya, mengingat potensi penyebaran virus cukup besar melalui kedua komoditi tersebut sehingga pemeriksaan harus dilakukan secara ketat.

“Selain itu risiko pemindahan penyakit. Karena kita ketahui, dari luar negeri sangat berisiko masuknya sebuah virus dalam makanan dari satu negara ke negara lain. Khususnya daging, sayur, buah-buahan atau hewan peliharaan. Makanya kalau mau mengirim komoditi harus dicek di karantina dulu,” tukasnya.

“Saya beri contoh, semua makanan harus ada pemberitahuan. Baik makanan diawetkan atau belum termasuk hewan ternak. Makanan dan hewan ini cukup rawan menjadi sarana penyebaran virus,” ucapnya.

Sebelumnya, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindakop) Kaltara mengimbau kepada masyarakat agar tidak mudah membeli daging dengan harga murah di pasaran. Mengingat hal tersebut terindikasi merupakan daging ilegal dimaksudkan.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop dan UKM) Provinsi Kaltara, Hasriyani menjelaskan, hal tersebut dikarenakan sejauh ini ciri daging ilegal dan legal tidak dapat dibedakan secara fisik lantaran daging Alana ilegal memiliki kemasan dan merek yang sama dengan daging Alana legal. Hanya saja, yang membedakan adalah proses penyimpanan daging pada suhu tertentu. Sehingga daging ilegal dikhawatirkan tidak memenuhi standar keamanan dan kehegienisan saat dikonsumsi.

“Membedakannya daging beku ilegal dijual dengan harga jauh lebih murah dari yang resmi. Daging Alana ilegal biasanya masuk ke Tarakan lewat Tawau. Kehigienisan diragukan, karena daging harus disimpan dalam suhu yang stabil untuk menjaga kualitas,” tuturnya.

Ia menyebut, daging resmi Alana dijual dengan harga Rp 90 ribu per kilogram, sedangkan yang ilegal di bawah harga tersebut. Sehingga, ia menegaskan jika terdapat daging Alana dijual di bawah harga Rp 90 ribu maka kemungkinan besar dagung tersebut ilegal.

“Harga daging lokal tidak bersaing dengan daging ilegal dari tawau, karena jelas lebih murah dan masyarakat perlu tahu bahwa yang ilegal ini kehigienisannya masih diragukan karena tidak disimpan dalam suhu yang stabil. Kalau yang resmi meskipun sama merek Insya Allah aman dikonsumsi,” jelasnya.

Dijelaskannya, harganya yang murah sehingga daging ilegal memiliki konsumen masih marak, dan peredarannya dilakukan secara terstruktur. Bahkan, upaya dari instansi terkait untuk memusnahkan daging ilegal dengan jumlah banyak tidak menyurutkan praktik peredaran alana ilegal tersebut.

“Masalah ini sudah terjadi sejak lama, makanya kita minta distributor harus menjual alana yang resmi,” tutupnya. (zar/eza)

Sumber: https://kaltara.prokal.co/read/news/37073-ini-dia-bahaya-konsumsi-daging-ilegal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here