Syari’at dan Militansi

0
184
> H. Syamsuddin Arfah, S.Pd.I,M.Si

 

Dalam Islam, miitansi beragama artinya seorang muslim mengamalkan ajaran agamanya dengan penuh ketaatan, benar sesuai syariat, sepenuh hati, dan loyalitas. Karenanya, wajar dan bahkan biasa-biasa saja bila seorang muslim menjalankan ajaran agamanya secara militan.

Memang, opini dan stigma mengartikulasikan “militansi” sebagai sikap ekstrim, mengerikan, bahkan di identikan dengan terorisme, sehingga muncul istilah “Islam Radikal” atau islam berhaluan keras untuk mendiskreditkan Islam. Kita menjumpai tambahan kata setelah “Islam” untuk mengidentifikasi keislaman seseorang atau kelompok, seperti : “Islam Tradisional”, “Islam Nasionalis” dan atau “Islam Moderat, dan lain-lain”. Berbagai istilah itu muncul untuk mengeksistensikan tentang keislaman seseorang baik secara individu maupun golongan dan kelompok besar, padahal Islam ya adalah Islam, sebagai agama yang diberikan Allah kepada manusia tanpa ada tambahan kata atau lebel dan istilah setelah kata Islam, itulah agama Allah yang diberikan kepada semua Nabi (bahwa agama para nabi itu adalah satu, yakni Islam), tambahan kata setelah “Islam” itu membuat pengertian menjadi rancu bahkan bisa merubah ma’na menjadi menyimpang dari ma’na sesungguhnya bahkan bisa sesat (Islamic Woridview).

Allah berfirman: ….”Pada hari ini telah aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah aku cukupkan nikmatku bagimu, dan telah aku ridhai “Islam” sebagai agamamu”…..(QS: Al-Maidah: 3) atau, Di QS: Ali-Imran: 19, Allah berfirman: “Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah “Islam”.

Kita kembali kepada pembahasan syari’at dan militansi, seharusnya setiap muslim terbiasa dengan militansi yang dituntut Islam. Sebab, Islam hanya menuntut militansi sesuai kemampuan setiap orang. Atau Bahasa dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya Allah tidak membebani setiap jiwa kecuali sebatas kemampuannya.” Artinya, sebatas mana kemampuan maksimal kita dalam menjalankan syariat Islam, maka sebatas itu tuntutan kita dalam bermilitansi terhadap Islam. Allah berfirman “maka bertakwa-lah kamu kepada Allah sebatas maksimal kemampuan kamu, dan dengarkanlah, serta taatlah, dan berinfaklah dengan harta yang baik untuk dirimu…” (QS: At-Taghabun: 16).

Kemampuan “maksimal” antara satu orang dengan orang lain tentu berbeda, maka dampak dan korelasinya pada tingkatan cara berislam orang tentu juga berbeda-beda. Begitu juga dengan iman dan takwa seseorang. Allah berfirman, “Setiap orang beramal sesuai dengan syakilahnya”. Perbedaan itu banyak sebabnya. Bisa karena tingkatan kecerdasan yang berbeda, kemampuan bawaan lahir yang berbeda, tingkat pendidikan yang berbeda, atau status sosial dan budaya yang juga berbeda. Tapi, karena Islam ditujukan untuk semua jenis orang, maka setiap orang – apapun bentuknya, jenis, warna kulit, dan tingkat kecerdasannya – bisa masuk Islam dan beragama secara militan sesuai dengan kadar kemampuannya.

Ragam miltansi yang kita jumpai sebagai berikut; seorang menampakan simat (identitas) keislaman, dengan memelihara jenggot dan menggunakan celana cingkrang atau, seorang muslimah dengan mengenakan jilbab besar dan menggunakan cadar, tentu hal itu di sebut militan. Politisi muslim berkomitmen menjaga puasa Nabi Daud (sehari berpuasa-sehari berbuka) dan berkomitmen pula untuk berinfak dan bersedekah. Hemm..(hari gini masih ada politisi yang bersikap seperti itu, maklum politisi atau politikus selalu di konotasikan negatif), bak di negeri dongeng, ini juga disebut militant. Seorang jenderal TNI terinspirasi dengan Panglima Sudirman, yang selalu menjaga kesucian wudhunya dan juga menjaga shalatnya agar selalu tepat waktu, tentu hal ini sulit dan berat, kemampuan menjaga ini adalah militant. Organisasi Islam menjadikan da’wah sebagai haluan geraknya, kebanyakan lebih dominan pada da’wah amar ma’ruf, tetapi ada organisasi Islam yang juga komitmen kuat dengan da’wah nahi munkar (mencegah kemunkaran), pasti dan tentu da’wah seperti ini banyak resiko dan tantangannya, komitmen kuat seperti ini, kita sebut militant.

Ghirah adalah kecemburuan dan semangat untuk membela Islam, ghirah adalah merupakakn implementasi yang muncul dari iman yang ada di sanubari, dia adalah perpaduan cinta dan iman dari seorang mu’min sejati, ghirah adalah bagian dari defand (semangat membela dan bertahan), tidak ada iman tanpa cinta dan tidak ada cinta tanpa ghirah, laksana seorang kekasih yang mencintai pujaan hati nya, selalu akan hadir cemburu jika ada yang menganggu, mengoda dan menodai. Ghirah karena cemburu untuk membela dan menjaga syariat ini, tentu sikap ini bagi seorang muslim yang beriman disebut militant.

Dijaman Rasulullah sallallahu Alaihi Wasalam, dulu pernah ada juga kejadian dahsyat yang berawal dari suatu peristiwa (yang mungkin dianggap)kecil dan sepele. Seorang perempuan datang membawa perhiasannya ke seorang tukang sepuh Yahudi dari kalangan Bani Qainuqa’. Selagi tukang sepuh itu bekerja, iya duduk menunggu. Datanglah sekelompok orang Yahudi meminta perempuan itu membuka penutup mukanya, namun ia menolak.
Tanpa sepengetahuannya, si tukang sepuh diam-diam menyangkutkan pakaiannya, sehingga auratnya terbuka ketika ia berdiri. Jeritan sang muslimah, yang dilatari oleh suara tawa orang-orang Yahudi tadi, terdengar oleh seorang pemuda Muslim. Sang pemuda dengan sigap membunuh si tukang sepuh, kemudian ia pun dibunuh oleh orang-orang Yahudi. Perbuatan yang mungkin pada awalnya dianggap sebagai candaan saja, dianggap sebagai insiden serius oleh kaum MUslimin. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Pun langsung memerintahkan pengepungan kepada Bani Qainuqa’ sampai mereka menyerah dan semuanya diusir dari kota Madinah.

Setiap muslim bisa memilih, sejauh mana ia perankan kualitas berislamnya. Pilihan itu ibarat anak-anak tangga. Yang menapak keatas, lalu tinggi menjulang. Sangat tinggi sekali, bahkan serasa tanpa batas. Maka ada yang merasa cukup berdiri ditangga terbawah. Tapi, ada yang tak puas dan ingin terus menaiki tangga-tangga keislaman dan keimanan itu. Dengan dorongan jiwa yang besar, tak ada kamus ‘istirahat’ bagi orang-orang seperti itu. Mereka sadar, militansi –dalam maknanya yang benar—adalah harga mati untuk surga mahal yang dinanti.,…….Wallahu A’lamu bis-shawab.

H. Syamsuddin Arfah, S.Pd.I.M.Si 

Aleg PKS DPRD KOTA Tarakan

 

SONY DSC
SONY DSC

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY