SPIRIT RAMADHAN

0
1428

Ramadhan Mubarak sesaat lagi akan kembali menyapa kaum muslimin di seluruh dunia tanpa terkecuali juga di Kota Tarakan yang tercinta ini. Dengan berbagai kemuliaan dan keistimewaan yang ada di dalamnya. Wajar jika bulan suci ini merupakan salah satu bulan yang paling dirindukan kehadirannya oleh kaum muslimin. Berbagai cara di berbagai negara dilakukan kaum muslimin untuk menyambut bulan mulia ini dengan penuh antusias, semangat keberagamaan dan kebahagiaan di penuhi suka cita. Sebab rasa gembira menyambut datangnya bulan Ramadhan adalah bagian dari refleksi keimanan seorang muslim.
Setiap perintah ibadah dalam islam selalu memiliki dimensi vertical dan horizontal, individual dan social. Meski puasa adalah perintah ibadah yang harus dilakukan oleh setiap individu kaum muslimin, namun tetap memberikan pesan-pesan serta ekses spiritual social. Secara individual, pelaksanaan puasa Ramadhan memiliki dampak meningkatnya kualitas ketaqwaan. Sebagaimana disepakati oleh jumhur ulama bahwa hakekat ketaqwaan adalah derajat mulia bagi seorang muslim karena mampu melaksanakan perintah Allah, dan menjauhi seluruh larangan Allah. Bahkan dalam Al-Qur’an “surga” juga disebut dengan istilah “daarul muttaqien” (rumah bagi orang yang bertakwa), dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik, dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa (QS An-nahl ; 30)

Sebelum dan setelah kedatangan bulan suci Ramadhan, bukan berarti tanpa hambatan, rintangan dan ujian. Karena itu kaum muslimin perlu mempersiapkan bekal ruhiyah (keimanan), Tsaqafiyah (keilmuan), jasadiyah (jasmani) dan maaliyah (harta). Orang beruntung adalah orang yang semakin meningkat ketaqwaannya kepada Allah, baik sebelum, selama dan setelah bulan Ramadhan. Dalam konteks kebangsaan, Ramadhan adalah jalan muhasabah (evaluasi) menuju ketaqwaan kolektif, atau transformasi dari ketakwaan individual menuju pada takwa kolektif dengan di mensi social yang lebih massif dan universal. Ketaqwaan kolektif akan mendatangkan keberkahan bagi bangsa ini, sesuai dengan suntingan Allah pada Firman nya: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi… (QS: Al-A’raf: 96). Menggali spirit Ramadhan dengan menemukan dan memunculkan ketakawaan idividu dan mentransformasikan menjadikan ketakwaan sosial adalah harapan saat ini, utuk menarik dukungan Allah agar mengundang keberkahan dari langit. Apalagi mengingat bangsa ini sedang dirundung permasalahan besar. Maka kembali kepada Allah adalah jalan terbaik.

Untuk memotivasi kaum muslimin sekaligus menyempurnakan kerinduan akan kehadiran bulan suci Ramadhan, maka ada kabar gembira dari Allah berupa pelipatgandaan kebaikan setiap amalan di bulan suci Ramadhan. Sebagai contoh saat kaum muslimin membaca Al-Qur’an di bulan suci Ramadhan. Jika kaum muslimin membaca satu juz Al Qur’an kira kira berjumlah 7000 huruf, kalikan satu huruf dengan 10 kebaikan dikalikan pahala 70 kewajiban maka akan menghasilkan 4.900.000 kebaikan. Jika satu kali saja Al Qur’an dikhatamkan selama bulan Ramadhan, maka akan didapatkan 147 juta kebaikan. Jika tiga kali akan didapatkan 441 juta kebaikan. Sungguh Allah melipatgandakan pahala setiap amal sholeh di bulan Ramadhan. Karena itu penting menjadikan Ramadhan sebagai ladang amal, bukan bulan untuk bermalas-malasan. Optimalisasi ibadah dan amal pada bulan Ramadhan adalah keniscayaan, bagi orang yang beriman, kapitalisasi kebaikan dan pahala hanya di dapatkan pada momentum bulan Ramadhan ini, agar kita bisa memaksimalkan bulan Ramadhan ini, salah satu cara yang harus di munculkan pada benak kita adalah keharusan berpikir bahwa Ramadhan ini adalah merupakan kesempatan terakhir yang Allah berikan kepada kita, oleh karena nya wahai pembaca yang budiman, jangan menunda dan mengulur waktu seakan- akan banyak Ramadhan yang akan di jumpai pada tahun-tahun akan datang, karena batasan usia dan ajal hanya Allah yang tahu, tentu sebagai hamba yang mempercayai tentang takdir termasuk ajal dan kematian, hanya wajib untuk menyiapkan perbekalan sebanyak-banyak nya untuk bertemu dengan Allah, menjemput ajal dengan husnul khotimah.

Ramadhan bukanlah momen untuk bermalas-malasan apalagi berbuat maksiat. Banyak peristiwa besar dalam sejarah yang justru terjadi pada bulan Ramadhan. Kemenangan perang badar dibawah kepemimpinan Rasulullah terjadi di bulan Ramadhan. Pembebasan ka’bah Al Musyarrafah (fathu Makkah) oleh 10 ribu kaum muslimin terjadi pada bulan Ramadhan tahun 8 Hijriyah. Penaklukan kaum Tartar, Khalifah Al Mu’tashym memenangkan perang Khiththin untuk membela seorang muslimah yang dilecehkan tentara Romawi. Penaklukan Syam oleh Shalahuddin Al Ayyubi dan kemenangan panglima Nuruddin Zanki dari kaum salibis. Bahkan Indonesia meraih pertolongan Allah bebas dari penjajah juga di bulan Ramadhan, kontemplasi mengingat perjuangan para pejuang bangsa yang berjuang membebaskan negeri ini dari cengkraman penjajah adalah sarana evaluasi untuk mencintai negeri ini, NKRI adalah harga mati, menghormati dan menghargai kebhinekaan adalah pondasi serta keniscayaan untuk membangun dan menjaga negeri ini, sebagaimana yang di lakukan para pendahulu dan pejuang bangsa.. Bulan Ramadhan adalah juga merupakan bulan lahirnya tokoh-tokoh besar seperti Nabi Yahya, Al Hasan bin Ali, al Huli Al Hasan bin Yusuf bin al Muthahhar. Bulan Ramadhan juga awal berdirinya Universitas Al Azhar Kairo oleh Jauhar Asy Syakali dimasa Khalifah Fatimiyah.

Meski kebahagiaan dan kerinduan harus tetap menghiasi hati kaum muslimin menghadapi datangnya tamu Agung Ramadhan, namun kesedihan atas kondisi kaum muslimin diseluruh dunia tentu juga tidak mungkin disembunyikan. Ditengah kegembiraan kaum muslimin menyambut bulan Ramadhan di negeri ini, disaat yang sama saudara muslim lain di negara lain justru dalam kondisi yang sangat menyedihkan. Mereka terjebak dalam situasi perang, kelaparan kezaliman dan bahkan pengusiran. Padahal umat ini adalah umat yang terbaik yang dilahirkan di dunia. Apa yang terjadi di negara lain tentu ibrah dan pelajaran harus kita petik dan ambil, agar tidak terjadi juga di negeri ini.

Muhasabah kebangsaan adalah refleksi ketaqwaan kolektif “social”. Membangun kejujuran dan kebersamaan serta meningkatkan kualitas diri dengan meledakkan potensi diri akan didapatkan di tengah kehusyuan serta pema’naan dari semua nilai-nilai ibadah yang di kerjakan. Semoga Ramadhan kali ini memberikan spirit social dan spiritual, dengan empat kata kata kunci sebagai penutup dari artikel ini: muslim yang taat, cinta terhadap NKRI, menghargai kebhinekaan serta memunculkan kecerdasan dan intelektual..
Allahu a’lamu bis-shawab

( H. Syamsuddin Arfah, S.Pd, I,M.Si )

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY