Pesona Pribadi (2 – Habis)

0
124

“Pemimpin hadir untuk memberikan contoh dan teladan sekaligus di suasana yang sulit juga mampu untuk   memberikan motivasi serta membangun obsesi “

Pesona pribadi yang di kembangkan Rasulullah dan menjadi keunggulan individu adalah keunggulan  pada kredibilitas intelektual kredibilitas intelektual adalah merupakan pesona diri yang ketiga sebagai sisi unggul pribadi Nabi.

Apa yang anda dan saya pikirkan tentang seseorang laki-laki berperangai  amat mulia  yang lahir dan dibesarkan di celah-celah kematian demi kematian orang-orang yang sangat mencintainya? Lahir dari Rahim sejarah  ketika tak seorangpun mampu mampu mengguratkan kepribadian selain kepribadiannya sendiri Ia lahir  tumbuh dan berkembang sebagai”  Ta’dib Rabbani”  (didikan Ilahiyah) yang menentang  panasnya mentari dan berdiri dengan kokoh dan tegak berhadapan dengan badai gurun pasir serta menggetarkan jutaan bibir dengan sebutan namanya  saat mengumandangkan lantunan merdu suara adzan.

Untuk mencapai kecerdasan yang demikian tinggi bukan hanya semata bersifat “given” (hadiah/pemberian) tanpa usaha tetapi Nabi memperolehnya melalui proses belajar seumur hidupnya (Madal Hayah). Sebagaimana yang diketahui  beliau terlahir sebagai  seorang yatim dan dimasa kanak-kanak beliau menjadi yatim-piatu yang miskin pula. Dengan demikian Nabi tidak mempunyai kesempatan untuk belajar di sekolah formal. Terlebih lagi di Mekkah pada waktu itu tidak terdapat sekolah sebagaimana di kenal di belahan dunia lainnya seperti di Yunani.

Nabi Muhammad  Saw adalah orang yang cerdas pikirannya  fasih Bahasanya dan santun tutur katanya. Itu adalah modal yang sangat berharga untuk menyampaikan risalah langit serta membawa misi kenabian dengan kecerdasan intelektual dan kefasihan bahasa serta kesantunan tutur kata menjadi daya pikat untuk mengemukakan hujjah (argumentasi)  wahyu membuat si pendengar menjadi terpikat. Hanya kesombongan, iri serta dengki yang bisa membuat mereka mengelak dari lautan kebenaran serta keindahan Al-Haq yang ada di hadapan mereka.

Abu Thalib Paman Nabi pernah bertutur tentang kekuatan kebenaran yang di bawah oleh Nabi di ungkapkan dalam untaian kata: “sungguh aku mengakui bahwa agama yang di bawa oleh Muhammad adalah merupakan agama terbaik buat manusia  seandainya jika bukan karena celaan atau juga bukan karena gengsi tentu engkau akan mendapati aku sebagai orang yang pertama kali mengakui dan mengikutinya”.  Allahu Akbar – Shollu ‘Alan- Nabyi.

Kecerdasan intelektual sebagai pesona diri laksana magnet sehingga menyebabkan public musyrikin arab bukan saja mau mendengarkan ucapan Muhammad karena dia jujur  atau integritas pribadinya baik, tetapi juga didukung kuat karena kecerdasan intelektual (kapasitas professional). Dengan Bahasa lain kejujuran dan keikhlasan (integritas diri) itu penting tetapi tidak cukup memadai untuk mengejawantahkan ketengah public tetapi juga harus di dukung dengan kredibilitas intelektual kemampuan professional untuk memberikan kontribusi dan dedikasi serta sebagai problem solving untuk menjawab problematika dan tantangan di tengah masyarakat.

Keunggulan integritas diri serta kredibiltas professional Nabi  di ungkapkan  Allah pada firman-Nya : ” Sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya”  (QS: Al-Qoshos: 26). Ma’na “kuat” adalah kredibilitas intelektual dan professional serta ma’na “dapat di percaya/al-amin” adalah integritas diri.

Melengkapi pesona diri Nabi kredibilas yang keempat adalah kredibilas operasional (kredibilitas amal). Muhammad bukan hanya mampu menawarkan ide dan gagasan saja  tetapi dia juga mampu untuk menjalankan ide dan gagasan itu dalam bentuk kerja nyata. Tidak hanya mampu sekedar berteori yang mengawang tetapi mempraktekannya dalam bentuk aksi dan amal.

Pada suatu hari dalam perkemahan tempur Nabi berkata: “Seandainya ada orang sholeh mau mengawalku malam ini. Dengan kesadaran dan cinta beberapa sahabat mengawal kemahnya. Di tengah malam terdengar suara gaduh yang mencurigakan. Para sahabat bergegas dan mencari ke sumber suara. Ternyata ia telah ada disana mendahului mereka duduk tegak dengan meyakinkan di atas kuda tanpa pelana, “Tenang hanya angin gurun,” terlontar kata hiburnya.

Kisah dalam kemah perang  memberikan pelajaran: Pertama Nabi bukan hanya sekedar pemimpin tetapi rangkap panglima perang  yang tidak hanya ingin untuk dilayani serta memiliki fasilitas yang berlebih karena sesungguhnya hakikat pemimpin adalah untuk berkhidmat dan melayani, “pemimpin suatu kaum adalah yang melayani kaum nya”. Kedua keinginan Nabi untuk ada pengawal bukan untuk semata prestise sebagai pemimpin ada ajudan atau untuk bermanja diri dan ketakutan adanya serangan dari musuh terbukti Nabi keluar dari kawalan sahabat duduk diatas kuda tanpa pengawal semata-mata instruksi Nabi kepada sahabatnya untuk memberikan kedisiplinan serta memunculkan loyalitas.

Untuk memperkuat uraian saya pada sisi kredibiltas operasional Nabi SAW Kisah Perang khandak menjadi saksi untuk aspek ini menggali parit adalah solusi bertahan atas usul dan saran dari sahabat Salman Al-Farisi. Pekerjaan parit bukanlah pekerjaan yang ringan apalagi dalam cuaca yang dingin saat itu belum lagi ditambah keterbatasan makanan namun keteguhan iman para Sahabat tidak menjadikan mereka berputus asa ditambah dengan keikut sertaan Rasulullah bersama mereka untuk menggali parit. Maka tidak membutuhkan waktu lama selesailah menggali parit sekeliling Kota Madinah sebagai benteng pertahanan.

Ada yang menakjubkan di kisahkan dari Al-Barra’ Ra, dia berkata, “saat menggali parit di beberapa tempat kami terhalang oleh tanah yang sangat keras dan berbatuan sehingga tidak bisa digali dengan cangkul. Kami melaporkan hal ini kepada Nabi. Beliau datang mengambil palu dan Bersabda ”Bismillah……”  kemudian menghantam dengan hantaman yang keras dan memercikan api, lalu beliau bersabda: “Allah Maha besar Aku di beri kunci-kunci Syam. Demi Allah aku bisa melihat istana-istana-Nya yang bercat merah pada saat ini”. Lalu Nabi menghantamkan palunya untuk yang kedua kalinya ke bagian tanah bebatuan. Nabi bersabda lagi: “Allah maha besar, aku di beri tanah persi. Demi Allah aku bisa melihat istana Mada’in yang bercat putih”. Kemudian Nabi menghantamkan palunya yang ketiga kali dan memercikan api, dan dia Bersabda: “Bismillah…”. Maka hancurlah tanah atau batu yang masih tersisa, kemudian beliau bersabda: “Allah maha besar, aku di beri kunci-kunci Yaman. Demi Allah, dari tempatku ini aku bisa melihat pintu-pintu gerbang Shan’a”.

Kisah Perang Khandak tentu sarat dengan ibrah Muhammad bukan seorang pemimpin yang hanya bisa duduk di atas kursi kebesaran bukan hanya sebagai pemimpin petantang-petenteng maunya hanya sekedar tunjuk tangan dan bisanya cuma memerintah juga bukan sebagai seorang leader yang penuh dengan kamuflase pencitraan atau sekedar charity kosong laksana debu dan pasir diatas bebatuan lalu terbang dan hilang di tiup angin. Pemimpin hadir untuk memberikan contoh dan teladan  sekaligus di suasana yang sulit juga mampu untuk memberikan motivasi serta membangun obsesi.  Romawi dan Persia sebagai symbol adikuasa akan ditaklukan apalagi hanya sekedar musuh dihadapan itulah pemimpin.  Tetapi pesona pribadi dalam bentuk kredibilitas operasional melengkapi kesempurnaan diri dari Rasulullah.

Allahu A’lamu bi-Shawab.

Syamsuddin Arfah, S.Pd,I.M.Si . Aleg PKS DPRD Kota Tarakan

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY