Pesona Pribadi (1)

0
177

” Orang-orang hebat itu seratus jumlahnya dan yang paling hebat adalah Muhammad “

Saat ini kita berada di bulan Rabi’ul awal, kebanyakan orang menyebutnya bulan maulud ( bulan kelahiran Nabi Muhammad ). Momentum bulan maulud, saya ingin untuk mengangkat pesona pribadi seorang teladan, laksana cahaya sinarnya bening dan lembut terang menyinari sekelilingnya, memikat dan memukau jiwa dia adalah Rasulullah Muhammad SAW

Rasul mungkin telah pergi meninggalkan dunia, tetapi dia telah mengajarkan kita agar tidak melupakan-Nya (Allah SWT), Pelindung tertinggi, kita aplikasikan dalam bentuk ibadah. Bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, berarti melangkah menuju kebebasan kepada mahluk dan menjadi hamba bagi sang Pencipta; mengakui Muhammad saw sebagai Rasul berarti belajar mencintainya di saat dirinya tidak ada lagi, dengan terus mengikuti sunnahnya agar hidup kita sukses secara seimbang baik spiritual, intelektual, emosional, sosial maupun finansial. Wajar saja Michael H. Hart mengatakan: “Orang-orang hebat itu seratus jumlahnya dan yang paling hebat adalah Muhammad”.

Saya memulai tulisan ini dengan ” pesona diri ” , pesona diri ini bagaikan magnet membuat yang jauh menjadi mendekat, yang dekat menjadi terpikat, yang benci menjadi suka, yang suka menjadi cinta, yang tidak kenal menjadi penasaran dan timbul sejuta tanya, lalu mencari tahu, belajar, lalu kagum dan terpesona.

Pesona itu dibuktikan melalui gelar dan julukan “Al-amin” sebagai orang yang bisa di percaya. Gelar dan julukan ini diperoleh dan didapatkan bukan ketika sudah atau telah menjadi Nabi, bahkan jauh sebelum menjadi Nabi julukan itu sudah di perolehnya. Yang menarik adalah julukan itu bukan diberikan oleh sahabat atau fans, keluarga atau follower Nabi, tapi julukan justru diberikan oleh orang musyrik Mekkah. Dan itu berarti public musyrikin Mekkah mengakui integritas kepribadian Nabi secara obyektif.

Pesona “al-amin” ini menyatu dan menjadi stigma pada kepribadian Muhammad, membuat orang musyrik tidak “berdaya” untuk menjadi dekat kepada seorang tauladan.

Pesona diri Nabi, diawali dari kredibilitas spiritual, kredibilitas kejiwaan yang tampak dalam bentuk akhlak, suluk, laksana berlian kilauan memancar sungguhpun berada dalam gumpalan lumpur. Nabi bersabda: “Sesungguhnya aku dutus untuk menyempurnakan keluhuran akhlak”. (HR. Al-Hakim dalam Mustadrak No: 4187).

Sumber akhlak itu tentunya adalah berasal dan bermula dari kekuatan ibadah, kekuatan ibadah adalah sembagai sumber energy jiwa, hal itu disaksikan oleh Aisyah ketika menjumpai kaki Nabi biru membengkak karena lama dan banyaknya melaksanakan shalat malam, sehingga Aisyah (Ummahatul Mu’minin) berkata kepada Nabi, mengapa engkau melakukan ya Rasulullah sampai sedemikian itu?, Lalu Nabi Menjawab: “Siapa yang tidak ingin dikatakan sebagai hamba yang pandai bersyukur”.

Ibadah dan akhlak pasti berbanding lurus, semakin kuat ibadah seseorang maka tentunya semakin tinggi akhlak dan budi pekertinya, contoh; shalat dan ibadah seseorang baik dengan menjaganya tepat waktu di masjid, di pastikan akhlaknya baik, jika tidak, berarti ada yang kurang atau mungkin keliru dari ibadahnya, entah niatnya yang kurang ikhlas, atau khusyu’nya yang bermasalah, atau syariatnya yang tidak sempurna, dan lain-lain.

Pesona pribadi tampak dalam bentuk ucapan yang santun, pribadi yang dermawan, suka membantu dan menjadi pembelah kalangan dhuafa’.
Kredibiltas individu dalam bentuk pesona pribadi, yang di munculkan dalam bentuk akhlak dan moral ini, akan berkorelasi dan berdampak minimal dalam 3 (tiga) aspek:

Pertama pada visi dan misi kenabian, akan begitu sulit untuk bisa diterima dari misi kenabian, jika moral Nabi cacat  atau treck record dari masa lalu nya rusak, karena pribadinya mempesona sehingga tidak ada alasan untuk menolak misi kenabian dan misi tauhid.

Kedua adalah aspek leadershif, integritas pribadi yang sempurna, membuat orang yang ada di sekelilingnya menjadi mudah untuk digerakan, yang mengaguminya mudah untk meneladani, bagaimana seandainya jika kata-kata yang keluar dari lisannya adalah kata-kata kotor, prilakunya arogan? tentu akan banyak yang menjauhi bahkan memusuhinya.

Ketiga adalah kematangan emosional serta stabilitas jiwa, ini menjadi penting dan itu tergambar jelas dari kekuatan ibadah, kenapa demikian? Karena orang yang dekat dengan Tuhannya jiwanya akan menjadi tenang  emosinya stabil  hal itu disebabkan dia dekat dengan sumber energy, Allah SWT.

Setelah pesona pribadi, maka kredibiltas kedua, saya ingin merangkai dengan kredibiltas sosial, pesona pribadi dengan kredibilitas sosial sangat berkoneksi serta sangat berkorelasi. Dalam urusan sosial, Nabi bukan saja mampu memberikan tawaran solusi, bahkan solusi itu memang handal. Contohnya bagaimana Nabi memberikan perhatian kepada anak yatim, fuqara dan masakin. Ini akan mempercepat kepercayaan public. Bukan hanya sekedar berteori dengan solusinya “diatas meja”, bahkan langsung mempraktekan solusi itu dilapangan.

Lebih dari itu Nabi adalah orang yang pertama kali menjalin silaturahmi kepada semua pihak bukan hanya yang menerima misi kenabiannya, bahkan yang menolak dan menentangnya. kita mungkin pernah mendengar dan membaca cerita Nabi menyantuni dan memberi makan orang Yahudi miskin lagi buta, padahal hampir setiap kali bertemu dengan Nabi, Yahudi buta itu menjelekan Muhammad, tapi santunan itu tidak berhenti diberikan dan ketika Nabi Wafat dilanjutkan oleh sahabatnya Abu Bakar, lalu yahudi miskin itu berkata kepada Abu Bakar:” bahwa engkau bukan orang yang kemarin-kemarin memberikan saya makan, karena yang kemarin memberikan saya makan orangnya begitu lembut dan begitu santun, lalu Abu Bakar menjawab: benar saya orang yang berbeda,  yang kemarin adalah Muhammad, orangnya telah wafat”, Yahudi itu kaget karena dia selalu menjelekan Muhammad dan setelah itu yahudi miskin lagi buta masuk Islam.

Kisah ini memberikan kita dua pelajaran: Pertama toleransi terhadap sesama, Nabi melalui syariat Islam sangat mengedepankan toleransi terbukti silaturahim juga di wujudkan terhadap orang yang kontra terhadap misi kenabian. Kedua, Nabi juga membuktikan bahwa dirinya tidak punya konflik pribadi. Konfliknya adalah konflik ideology itu artinya penolakan orang terhadap Nabi bukan karena pribadi atau individunya, karena tidak ada yang cacat atau kurang dari kepribadiannya, akan tetapi penolakan orang musyrik hanya murni karena perbedaan ideology, para musyrikin menolak misi kenabian, misi Tauhid Laailaaha illallah. Orang jahiliah musyrik ingin tetap mempertahankan agama yang di bawa oleh nenek moyang mereka dan itu menunjukan konflik yang terjadi adalah pada konflik ideology.

Untuk memperkuat argumentasi saya pada aspek sosial ini, cuplikan testimony istri Nabi, yaitu Khadijah RA, setelah Nabi menerima wahyu dari Gua Hira, kemudian Nabi kembali dengan tergesa-gesa kerumahnya, mental Muhammad sebagai manusia biasa down, setelah itu Nabi meminta Khadijah menyelimutinya agar tenang jiwanya seraya berkata; ” aku khawatir terhadap diriku dari apa yang aku temui di Gua Hira”, lalu Khadijah berkata; ”Demi Allah, Allah tidak akan mungkin untuk mencelakai mu, karena engkau adalah orang yang suka bersilaturahim, menolong orang yang lemah, menghormati tamu, dan suka membantu yang kesusahan”. Kesaksiain Khadijah pada testimoninya itu terekam baik dan sempurna pada hadist Bukhari bab: “permulaan wahyu” . Testimoni serta kesaksian  Khadijah merupakan kapasitas dan kredibiltas sosial. Allahu a’lamu bis-shawab………..
Syamsuddin Arfah. S.Pd,I.M.Si  Aled PKS DPRD Kota Tarakan

(bersambung)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY