KUNGFU, PENDIDIKAN DAN ADAB

0
300
Syamsuddin Arfah, S.Pdi,M.Si Aleg PKS DPRD Kota Tarkan

Beberapa malam yang lalu, salah satu stasiun televisi swasta  menayangkan film kungfu yang berjudul “Karate Kid” seingat saya tidak kurang dari 5 (lima) kali menonton film kungfu ini, lebih seru jika menontonnya bersama anak laki-laki saya yang sudah berusia 5 (lima) tahun, bernama M. Mursy Ramadhan (saat ini duduk di kelas B TKIT Ulul Albab), walau berulang kali menyaksikan film ini tetapi tidak timbul kebosanan, mungkin karena saya juga penggemar film karate dan action, untuk film “Karate Kid” menontonnya tentu menguras emosi, ada kegemasan  selain itu film ini berakhir dengan happy ending.  Walau film ini menguras emosi bagi si penonton, yang menarik lagi film ini memberi pesan serta pelajaran. Apa pesan dan pelajaran dari film ini? Bahwa kungfu bukan hanya sekedar “seni beladiri” untuk bertahan, menyerang atau menghabisi lawan tanpa ampun, belajar kungfu harus disertai belajar etika kingfu “adab” kungfu  sebab kungfu sebagai ilmu dan seni beladiri adalah untuk kebaikan, bukan sekedar berantam dan menghabisi lawan apalagi tanpa ampun. Menurut saya disinilah yang membuat film ini keren, dan layak untuk di tonton karena ada edukasinya.

Guru kungfu yang mengajarkan ilmu kungfu tanpa adab kungfu, bahkan menanamkan  rasa “tanpa ampun” untuk menghabisi lawan ketika berantem atau berkelahi, itu bukanlah guru kungfu. “That’s not kungfu! That’s bad man teaching very bad things!” ungkap Mr. Han mengomentari Master Lee yang mengajarkan kungfu hanya untuk menghabisi lawan tanpa ampun. Disini dech menambah keseruan film itu.

 Dre Parker (Jaden Smith) minta di ajarkan kungfu  oleh Mr. Han ( dilakoni oleh Jacky Chan) dengan setengah memaksa, karena disebabkan sudah tidak tahan dibully baik secara fisik maupun mental oleh teman-teman satu sekolah dengannya, yang juga mereka pada menguasai beladiri kungfu. Tetapi Mr. Han bersikeras untuk tidak mengajarkan kungfu sebelum kelakuan Dre baik. Mr. Han memulai mengajarkan kungfu kepada Dre dengan cara melepas serta memakai kembali jacket dan menaruhnya ditiang dinding berulang-ulang kali, hingga lelah dan bosan. Tentu cara memulai berlatih kungfu seperti ini ada makna serta filosofinya, saya tidak akan mengulas film ini, karena tentu anda sudah pernah menontonnya. Intinya adalah belajar kungfu di mulai dari belajar adab.

 Saya ingin beralih ke cerita yang lain, salah seorang murid SDIT Ulul Albab Tarakan kelas 2 bernama Aria Muh Fauzi  Nur Rahman Pangitung, mengikuti kejuaraan Taekwondo Bharaduta Open 2017 antar Unit dan Club Se-Indonesia di Gor POPKI Cibubur, 29 September – 01 Oktober 2017 ketika memenangkan pertandingan dan mengalahkan lawannya, menang dan menjadi juara 1, kemenangan di ekspresikan dengan melakukan selebrasi dalam bentuk sujud syukur, tanpa euforia yang berlebihan. Gaya selebrasi siswa SDIT Ulul Albab ini menjadi viral di youtube. Ibu Salmiati sebagai salah seorang guru Al-Qur’an bertanya kepada ananda Ozi (nama panggilan) mengapa sujud setelah mengalahkan lawan? Ozi sang juara taekwondo menjawab: “nga tahu ya ustadzah, senang aja, hehehe” jawaban polos dari anak yang baru duduk di kelas 2 (dua) tersebut, tanpa rekayasa dan tanpa ekspresi. Menurut saya itulah etika, itulah adab.

Dalam Islam belajar ilmu tanpa adab juga akan merusak. Merusak diri sendiri dan merusak masyarakat. Berilmu tapi untuk membodohi orang lain, ilmu di gunakan untk korupsi, atau orientasi materi dan duniawi.

 Jadi betapa pentingnya kedudukan adab dalam ajaran Islam. Uraian lebih rinci tentap konsep adab dalam Islam disampaikan oleh Prof. Syed Muh Naquib al-Attas, pakar filsafat dan sejarah melayu, adalah “pengenalan dan pengakuan akan hak keadaan sesuatu dan kedudukan seseorang, dalam susunan berperingkat martabat dan darajat, yang merupakan suatu haakikat yang berlaku dalam tabiat semesta”. Pengenalan adalah ilmu  dan pengakuan adalah amal. Maka pengenalan tanpa pengakuan ibarat ilmu tanpa amal dan pengakuan tanpa pengenalan ibarat amal tanpa ilmu. Keduanya sia-sia karena yang satu mensifatkan keingkaran dan keangkuhan, dan yang satu lagi mensifatkan ketiadaSadaran dan kejahilan. Prof Naquib al-Attas, dalam Risalah Kaum Muslimin, (ISTAC, 2001).

 Para ulama terdahulu lebih mengutamakan belajar adab daripada belajar ilmu, Koor dari pendidikan adalah adab begitu kata Prof Ahmad Tafsir (Guru Besar Universitas Ilmu Khaldun Bogor). Imam Malik dipesankan ibunya  ketika akan belajar kepada Rabiah, “Pergilah kepadanya, pelajari adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya.”

Ruwaim berkata: “Wahai anakku! Jadikanlah ilmumu ibarat garam (yang tersebar dilautan) dan jadikanlah budi pekertimu ibarat (tepung yang berterbangan didaratan)”.

 Ibnu Mubarak berkata, “Kami mempelajari adab selama 30 tahun, setelah itu kami baru mempelajari ilmu selama 20 tahun.”

Salah satu “kitab adab” yang hingga sekarang menjadi pegangan dan pelajaran penting serta diajarkan dihampir seluruh pesantren, adalah “Adabul Alim wal Muta’allim” (Adab Guru dan Murid) karya pendiri Nahdhatul Ulama “NU”, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, yang sekarang di jadikan buku pendidikan karakter khas pesantren patut untuk dijadikan rujukan, atau  karya Muh.Nasih Ulwan yang berjudul “Tarbiyatul Aulad” (pendidikan anak) sebagai buku wajib semua Sekolah Islam Terpadu, buku tersebut terasa sekali kekentalan dari adab dan akhkaknya.

 Prof Naquib al-Attas berkata bahwa kemunduran umat ini lebih disebabkan karena ketiadaan adab (the loss of adab). Manusia yang abai terhadap system etika agama dan menjunjung tinggi hak asasi akan berakibat hilangnya adab dan akhlak mulia. Jika kehidupan manusia telah kehilangan adab, maka bisa dipastikan akan kehilangan segala-galanya. Kehidupan social, politik, budaya, pendidikan dan ekonomi tanpa ditopang oleh adab, maka akan berakhir pada sosiologisme destruktif.

 Melalui tulisan ini, saya mengucapkan: “Selamat Bermusyawarah Wiilayah Ke-2 Jaringan Sekolah Islam Terpadu Kalimantan Utara Tahun 2017”  dengan tema: “Bersinergi Membangun Bangsa Melalui Pendidikan Yang Bermutu, Relegius dan Berdaya Saing Global”.

Tarakan,  November 2017.

Syamsuddin Arfah

Allahu a’lamu bis-Shawab.

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY