KEMBARA : Legitimasi Kader PKS

0
21

Dr. Syamsuddin Arfah, M. Si

(Sekretaris Umum DPW PKS Kalimantan Utara)

Kembara adalah kepanjangan dari kemah bhakti nusantara, merupakan program dari BKO (bidang kepanduan dan olahraga) PKS, program ini wajib untuk di ikuti oleh semua kader PKS, “jangan ngaku kader PKS jika tidak ikut kembara” tentu kalimat itu terlalu ekstrim untuk di bahasakan, saya ingin mengungkapkan dengan kalimat yang berbeda: “legitimasi sebagai kader PKS” adalah ya ikut kembara.
Kebun Raya Binusan, salah satu tempat wisata di Nunukan menjadi tempat kegiatan Kembara ini dilaksanakan.

Melalui kegiatan kembara, PKS ingin meperlihatkan eksistensi yang sesungguhnya tentang kecintaan terhadap Indonesia, serta ingin mempertahankan NKRI melalui ideologi Pancasila, sehingga setiap pesan pada pembukaan dan penutupan kembara, yel-yel yang di slogankan adalah SIAPA KITA? INDONESIA, NKRI…HARGA MATI, PKS CINTA INDONESIA.

Apa sih yang membedakan program kembara ala PKS dengan kemah atau kegiatan lainnya yang mirip sama baik itu camping atau outbound atau apapun namanya di luar PKS, tentu kembara memiliki program yang hampir sama atau tidak terlalu jauh berbeda, tetapi ada beberapa yang menjadi titik tekan dalam kegiatan kembara ini:

Pertama, Niat. Niat ini adalah merupakan persoalan pokok yang menjadi pondasi dasar kita mengikuti kembara, jangankan sedang kembara sholat atau ibadah wajib saja niat adalah kuncinya, kenapa mesti niat yang menjadi pembeda dengan kegiatan lain, karena niat ini menjadikan kemah bukan sekedar kemah, ketulusan niat akan menjadikan kegiatan ini bukan sekedar refreshing, kumpul-kumpul, buang penat, mencari kondisi yang berbeda atau apapun namanya, di balik ketulusan niat akan muncul kepatuhan, akan terdegrasi keangkuhan, kembara tidak melihat apa dan siapa kita, semua akan melebur menjadi satu dibawah komando pimpinan, akan muncul jiwa keprajuritan. Dan lain-lain, kalau jaim (jaga image) di pelihara pada kegiatan kembara, maka kita akan tersisih dan ngedumel, ente mau anggota dewan kah, mau kepala daerah kah atau apapun sama dihadapan panitia. Ingatkan kita bagaimana tengah malam di perintah terjun masuk kedalam sungai, adakah yang tidak kecebur didalam dingin dan dalamnya air di waktu menjelang shubuh hari.

Kembara kalau tidak ikhlas bisa mutung sepanjang mengikuti acara, bayangkan nih sudah masak yang enak-enak, memasaknya pun bela-belain cari kayu bakar di bukit, ada yang beli sayap ayam di pasar. Eh pas mau dimakan, panitia menukarnya dengan ikan sarden, terus sudah menyiapkan masakan padang dan lagi-lagi panitia menukarnya dengan nasi goreng sisa makan semalam, kalau tidak ikhlas bisa berabe nih urusannya.

Kedua, Orientasi, menata dan memperbaharui orientasi, mengapa ini menjadi titik tekan? Rasulullah berpesan kepada Abu Dzar: “Wahai Abu Dzar Perbaharui Kapalmu karena laut itu amatlah dalam….” Makna yang dalam dari pesan Rasulullah ini adalah orientasikan hidup mu pada arah yang benar, tata kerjamu menjadi tepat, olah visi dan misi hidup mu menjadi tepat, benahi program kerjamu menjadi lebih terarah.

Ketiga, Azam (tekat)/semangat serta daya tahan sebagai kader akan lebih kuat dan terasa, apa yang membedakan seorang kader dengan kader lainnya dalam mengikuti kegiatan, apalagi kegiatan itu berat, laksana pesan Rasulullah kepada Abu Dzar ketika mengingatkannya : “Ringankan beban yang engkau pikul karena gunung yang akan kita lalui amatlah terjal dan curam”.

Adalah Abu Ayyub Al-Anshari salah seorang sahabat yang di berikan umur Panjang, sehingga hidup pada kekhalifahan Usman, beliau yang kala itu usianya sudah renta, ketika ada seruan jihad maritim, memiliki semangat untuk mengarungi lautan menuju perairan Yunani untuk menghadapi pasukan romawi, seruan jihad berkumandang melalui lantunan ayat : ”infiru khifafan watsiqaalan” (berangkatlah kalian dalam kondisi ringan maupun berat) lalu anaknya berkata kepadanya; “sudahlah ayah tidah usah ikut perang, cukuplah kami ini anak-anak ayah yang mewakili di medan perang”.

Dengan kecerdasan menafsirkan ayat tersebut di barengi dengan sikap dan pembawaan “Hikmatus syuyuh wa hamasatus syabaab. Kedewasaan orang tua dan semangatnya pemuda”. Tidak bisa, ayat tersebut mewakili semua umat islam baik yang tua maupun yang muda, sebab ayat tersebut menyebutkan “khifafan” (ringan) yang di tujukan untuk kamu/mereka yang masih muda, sedang “tsiqaalan” (berat) yang di tujukan untuk saya atau mereka yang sudah tua, begitu timpalnya memberikan penjelasan kepada anaknya. Maka anaknya tidak mampu untuk membendung tekat dan semangat sang ayah Abu Ayyub al-Anshari untuk turut serta dalam proyek jihad menuju yaman tersebut.

Kisah Abu Ayyub memberikan pelajaran tentang inspirasi kembara: kemampuan dan tekat serta semangat mampu mengalahkan kekurangan dan kelemahan dari aspek fisik, badan yang bugar, fisik yang atletis serta usia yang masih muda, maupun lama dan panjangnya masa dan tempaan dalam pembinaan akan menjadi kalah dengan mereka yang punya tekat dan semangat yang kuat, oleh karenanya ketika mengikuti kembara di Nunukan kita melihat ada beberapa orang yang secara fisik mereka tidak sempurna fisiknya tetapi mereka sempurna jiwanya, itu menggetarkan jiwa saya (penulis sekaligus sebagai peserta pada acara itu) dan diantara mereka ada yang kekurangan secara fisik ikut dengan semangat dan keceriaan tetapi di kepala mereka ada yang hapal 30 juz al-Qur’an, guman saya dalam hati memercik takbir Allahu akbar dan menyempurnakan dengan ungkapan merdeka.

Keempat, Fokus. Fokus ini adalah perkara penting kita menyebut dengan istilah lain yaitu konsentrasi, syetan datang merusak shalat orang-orang yang beriman dengan mengaggalkan titik fokus mereka, kenapa syetan merusak titik fokus orang yang shalat, agar orang yang shalat gagal mencapai titik kekhusyuan, karena khusyu’ adalah puncak sikap seorang hamba dalam shalatnya, dan predikat kebahagiaan yang tertinggi, bermacam-macam cara yang digunakan syetan dalam merusak titik fokus kita, bisa melalui pikiran, hati, bahkan perut orang yang shalat dan lain-lain. Kembara ingin mengembalikan titik konsentrasi kader untuk selalu fokus, fokus pada visi-misi, fokus pada program kerja, saat ini kita sudah melakukan Rakorwil dan Rakorda Se-Kaltara, fokusnya pada program KTA (Kartu Tanda Anggota), TOP (Traning Orientasi Partai) dan pemenangan pada pemilihan pilkada gubernur dan bupati, saat ini banyak yang ingin merusak titik fokus dan konsentrasi kita dengan tawaran pada yang lain, tetapi semangat kembara mengantarkan kita untuk memahami bahwa kita sudah berada pada tempat yang tepat dan perjuangan yang benar…Takbir…Allahu akbar..Merdeka.

Ingatkah kita pada outbound sore hari sabtu untuk menyelamatkan segelas air yang diletakkan di atas kain selayar dan di pegang 4 orang, satu kelompok mepertahankan air agar tidak tumpah dan sampai di tujuan dengan selamat tetapi kelompok yg lain ingin menumpahkan, bagaimana dengan strategi yang cerdas kita bisa menangkap semua pengacau dan provokator serta dengan kelihaian kita membawa air dan memisahkan nya dengan selayar untuk mengelabui kelompok pengacau, sekedar mengingatkan siapakah yang bawa air itu dan dengan stateginya bisa selamat dari incaran pengacau, saya sebutkan dia adalah Sekum DPW PKS Kaltara….hahaha..sombonngg ya tidak apa geer..kan saya yang nulis..inikan kekuasaan saya..bukan panitia lagi.

Kelima, Disiplin. Sebelum berbicara disiplin, saya ingin untuk mengulangi cerita pasukan pemanah pada perang uhud. Terjadi kesalahan yang dilakukan para pemanah, sehingga bisa membalik keadaan secara total dan akhirnya menimbulkan kerugan yang besar dan amat banyak bagi kaum muslimin, bahkan hampir saja menyebabkan terbunuhnya Rasulullah dalam peperangan itu, kejadian ini menyebabkan faktor umat Islam menjadi berkurang setelah kaum muslimin mempecundangi orang kafir pada perang uhud.

Rasulullah memerintahkan pasukan pemanah untuk tetap “fokus” diatas bukit baik menang ataupun kalah’ tetapi ketika kondisi umat Islam sudah diatas angin, mereka gagal konsentrasi melihat saudaranya yang mengambil ghanimah (rampasan perang). Mereka terbawa fikiran terhadap cinta dunia dengan teriakan: “harta rampasan-harta rampasan, apalagi yang kalian tunggu, saudara kalian sudah menang, apalagi yang kalian tunggu?.

Komandan pasukan pemanah Abdullah bin Jubair sudah mengingatkan pasukannya “apakah kalian lupa pesan Rasulullah, menang atau kalah, jangan pernah untuk tinggalkan puncak bukit ini”.

Mayoritas pasukan pemanah ini yang berjumlah 40 orang sudah bergabung dengan mereka yang berebut harta rampasan perang, akhirnya kondisi pun berbalik, itu semua disebabkan mereka tidak “disiplin” dan “gagal fokus”.

Kembara ingin membuat kita disiplin, apa yang di takuti peserta pada saat kembara, adalah pluit panitia, apalagi sudah mulai berhitung memberikan aba-aba untuk segera kumpul 10-9-8-7 dst nya. Karena kalau sudah sampai titik nol dan kita baru tiba di tempat titik kumpul bisa dipastikan kita akan kena sanksi push-up atau nyanyi atau sanksi lainnya, saya (penulis) kena sanksi push-up karena tidak bawa slayer.. panitia-panitia guman saya dalam hati “kekuasaan mu hanya 3 hari bro..”.

Keenam,  Ada beberapa lagi yang menjadi titik tekan tetapi yang menjadi hal yang paling dalam juga adalah semangat untuk menjaga ibadah dan ruhiyah, karena ibadah dan ruhiyah yang kuat akan membungkus dan membingkai ketulusan dan keikhlasan niat, memperkuat orientasi, menumbuhkan ukhuwwah, memperkuat titik fokus, memperdalam daya tahan serta tekat dan semangat, bisa dipastikan bagi kader yang ikut kembara, tilawah al-Qur’an melebihi target, dzikir pagi dan petang, qiyamul lail, shalat dengan tempat dialam terbuka dengan segala keterbatasannya akan memunculkan suasana yang berbeda dll.

Terakhir, Ada beberapa poin pelajaran lagi dari mengikuti kembara di Nunukan ini pada tahun 2020 tetapi saya tidak ungkapkan semua (maklum penulis sudah mulai ngantuk nih..), mewakili DPW PKS Kalimantan Utara mengucapkan terimaksih banyak kepada panita maupun kader PKS se-Kaltara serta instruktur dari DPP AgusBeng, serta permohonan maaf jika ada yang salah dari kami jajaran DPW PKS Kaltara, sampai berjumpa pada KEMBARA berikutnya, tetaplah “SEMANGAT DAN BERSIAP – SIAGALAH”.

Allahu a’lamu bis-Shawab

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here