Esensi Ramadhan dan Kemajuan Peradaban

0
1243

Sangat mencengangkan jika Ramadan  datang, terlihat jelas semangat keberagamaan umat Islam timbul, muncul, serta naik dan meningkat. Kesadaran akan beribadah begitu tinggi dan pemandangan nampak berbeda dari bulan-bulan  lainnya , masjid-masjid dan mushalla serta tempat ibadah “mendadak” ramai dan penuh untuk menunaikan shalat berjama’ah, shalat shubuh dihari biasa terasa kurang dan mungkin sepi, tetapi akan  berbeda dibulan Ramadan orang-orang datang memenuhi masjid, walaupun terkadang kantuk dilawan, bahkan disaat dingin dan hujan  tetap diterobos. sungguh menarik dan menyenangkan hati. Shalat tarawih menjadi membeludak, dibeberapa masjid atau mushalla harus memasang serobong atau membuka tenda untuk menampung jama’ah shalat, suasana dan nuangsa ruhiyah dan spiritual terasa kental.

Setidaknya ada satu hal penting yang perlu diperhatikan oleh kita sebagai umat islam untuk kembali mengulang kejayaan peradaban islam masa lalu, terlebih pada bulan Ramadhan ini. Yaitu kesadaran dalam berislam, bukankah setidaknya setiap hari minimal tujuh belas kali kita meminta kepada Allah untuk di tunjukan kepada jalan lurus nya dan diberi nikmat berpegang teguh  kepada Al-Qur’an dan Sunnah seperti orang-orang terdahulu?. Kemudian Allah memberikan jawaban itu dengan sangat jelas yang kemudian hingga saat ini banyak tafsir atas ayat-ayat yang di turunkan Nya. Kesadaran akan berislam ini perlulah ada, dan haruslah tumbuh subur layak nya analogi pohon pada kalimat thoyyibah {kalimat yang baik), akarnya yang kokoh, kemudian tinggi menjulang ke langit (memberikan keteduhan bagi yang dibawah nya) dan buah nya memberikan manfaat bagi mahluk hidup lain.

Kemudian korelasi dengan bulan Ramadhan  itu sendiri, adalah dimana adanya kewajiban bagi setiap muslim untuk menjalankan puasa agar dapat bertakwa (QS: Al-Baqarah: 183). Takwa ini menjadi salah  satu dari banyak hikmah yang Allah berikan kepada umat muslim, sehingga takwa dapat menjadi sebaik-baik bekal dalam menjalani hidup di dunia, pun bekal menuju alam akhirat kelak. Sehingga apabila kesadaran dalam berislam ini telah sampai pada puncak ketakwaan sejati kepada Allah SWT semata, dengan semurni-murninya islam, iman dan ihsan, umat ini akan otomatis berhimpun menjadi satu kesatuan raksasa yang kemudian mampu untuk kembali mengulang kejayaan nya.

Tentu semangat keberagaman ini harapan nya terus berkelanjutan dan tetap stabil, dan tidak hanya berlaku pada awal Ramadhan saja, atau di sepuluh hari pertama di bulan Ramadhan. Jika komitmen untuk menjaga semangat keberagamaan ini terus menerus, maka esensi dan substansi dari nilai ibadah Ramadhan di pahami baik oleh kaum muslimin secara kolektif. Jika tidak, dengan arti hanya ikut semangat meramaikan ibadah Ramadhan ini hanya di awal-awal puasa saja, maka sesesungguhnya ibadah hanya terkesan seremoni, mengikuti cara dan gaya dari kebanyakan orang. Tanpa mengejar arti dan kualitas  ibadah Ramadhan. seakan menjadi setyle dan model yang hanya terlihat mungkin di sepuluh hari pertama dibulan Ramadan, perlahan tapi pasti semangat keberagamaan, serta kesadaran beribadah yang pada awalnya terlihat naik dan meningkat “tidak bertahan lama”  seiring dengan bertambahnya hari dibulan Ramadan, masjid-masjid yang mulanya begitu ramai membludak mulai terlihat longgar dan agak lowong, padahal Rasulullah saw  mencontohkan cara mensikapi Ramahdan dengan mengencangkan ikat pinggangnya dan meningkatkan intensitas ibadahnya jika memasuki sepuluh hari terakhir dibulan Ramadan, sebagaimana dalam hadist yang diriwayatkan oleh Aisyah ia berkata : adalah Rasulullah saw, apabila masuk (tanggal) sepuluh, ya’ni sepuluh yang akhir dari Ramadan, ia kencangkan ikat pinggangnya ia hidupkan malamnya dan ia bangunkan keluarganya. (Bukhari – Muslim).

Ungkapan Syekh Yusuf Qordawy patut untut menjadi renungan buat kita : “Ciri khusus kebangkitan umat kontemporer adalah sebuah kebangkitan yang tidak saja bermodalkan semangat. Apalagi hanya ungkapan verbal dan slogan semata”.

 Ibadah Ramadan jangan dijadikan seremoni ritual belaka, atau hanya terjebak pada tradisi tahunan yang hanya ramai diawalnya saja, senang dengan ramai-ramai tanpa memahami ma’na yang terkandung di dalamnya, atau barangkali kita memang senang dengan sesuatu yang bersifat seremoni, lebih senang kuantitas (banyak dan ramai) daripada yang bersifat kualitas, lebih senang kulit daripada isi, lebih suka menilai dari sisi permukaannya , lebih suka memandang dari kulit luarnya saja, tentu akan banyak pertanyaan yang akan diajukan penulis, tapi apalah artinya pertanyaan yang jadinya hanya rangkaian  kata-kata, jika kata itu tidak mengandung ma’na.

Ungkapan sabda Rasulullah SAW, patut menjadi perhatian kita: “Hampir tiba masanya kalian di perebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya. “Maka seseorang bertanya: “Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” “Bahan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung di lautan”. Dan Allah telah  mencabut rasa gentar dari dadah musuh kalian. Dan Allah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan itu?” Nabi SAW bersabda: “Cinta dunia dan takut akan kematian”. (HR: Abu Dawud).

Ada beberapa pelajaran penting yang dapat kita Tarik dari hadist ini:

Pertama, Nabi SAW memprediksi bahwa akan tiba suatu masa dimana orang-orang beriman akan menjadi kumpulan manusia yang menjadi rebutan umat lainnya. Mereka akan mengalami keadaan yang sedemikian memprihatinkan sehingga diumpamakan seperti porsi makanan yang  diperebutkan oleh sekumpulan pemangsa. Artinya, pada masa itu kaum muslimin menjadi bulan-bulanan kaum lainnya. Hal ini karena mereka tidak memiliki kemuliaan sebagimana di masa lalu. Mereka telah diliputi kehinaan.

Kedua, pada masa itu umat islam tertipu dengan banyaknya jumlah mereka padahal tidak bermutu. Sahabat menyangka bahwa keadaan hina yang mereka alami di sebabkan jumlah mereka yang sedikit, lalu Nabi SAW menyangkal dengan mengatakan bahwa jumlah muslimin pada waktu itu banyak, namun kualitas rendah. Hal ini juga berarti bahwa pada masa itu umat islam memperhatikan kuantitas tetapi lalai memperhatikan kualitas. Yang penting punya banyak pendukung alias konstituen tanpa mau peduli dengan kualitas konstituen nya. Mereka menggunakan prinsip The majority rules (mayoroitas lah yang berkuasa).

Ketiga, Rasa gentar dan takut hilang di dada musuh umat islam yang disebabkan cinta dunia dan takut mati.  Para pemimpin negeri dan penguasa tidak menghiraukan jeritan silent majority. Karena umat islam di anggap tidak memiliki kualitas, laksana buih yang mengapung, banyak dan mayoritas tapi tidak menentukan.

Statement Khalid bin Walid patut untuk dijadikan analisa ketika berlangsungnya perang Yarmurk: “Tidak ada sejarahnya, perang di menangkan semata-mata karena banyak nya jumlah. Tapi kemenangan itu karena mereka beriman kepada yang memerintahkannya, lurusnya niat, strategi untuk menang, dan persiapan”. Khalid sang panglima juga mengatakan: “Jumlah pasukan musuh sekitar 240.000 orang. Sedangkan jumlah pasukan kaum muslimin total 46.000 orang”. Lalu Khalid membacakan firman Allah: “Betapa banyak terjadi golongan yang sedikit mampu mengalahkan golongan yang banyak karena idzin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS: Al-Baqarah: 249), setelah itu pasukan umat islam mampu memenangi perang yarmurk dibawah komando panglima Khalid bin Walid.

Tiga rahasia Erdogan untuk memakmurkan Turki, patut juga untuk kita teliti: 1. Memulai dengan  gerakan shalat shubuh berjamaah. 2. Gerakan infak dan shodaqah dan 3. Gerakan ekonomi umat. Tentu spirit ini harus kita ambil, semangat Erdogan dalam memajukan dan memakmurkan Turki, harus juga menjadi inspirasi untuk umat Islam Indonesia, dan tidak terkecuali kita juga yang berada di Kota Tarakan.

Semangat beribadah di bulan Ramadhan  dengan  hadiah “takwa” yang di berikan Allah, bukan hanya semata-mata pada menjalankan ibadah puasa tetapi juga merupakan rangkaian dan kumpulan dari berbagai ibadah yang ada dibulan Ramadan yaitu seperti, shalat taraweh, menjaga shalat jama’ah di masjid, menunaikan shalat sunnah,  tilawah al-Qur’an, dzikir, zakat, infaq dan shadaqah, memperbanyak melakukan kebaikan dan lain lain. Sesungguhnya esensi ibadah Ramadan bagi orang yang beriman terletak pada kesungguhan (jiddiyah), komitmen (itizam), konsisten (istiqamah), keberlanjutan (istimrariyah). Jika hal itu tidak ada pada ibadah Ramadan maka kita akan kehilangan esensi, kehilangan kualitas, kehilangan isi dari ibadah yang di kerjakan. Jika ibadah  kehilangan esensi, maka kualitas tidak akan tercapai dan sudah bisa dipastikan ibadah akan kehilangan isi. Jika itu terjadi akan sulit  bagi kita untuk mencapai hadiah dari Allah berupa predikat “takwa”.

Firman Allah SWT patut untuk menjadi renungan di akhir tulisan ini: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (Al-A’raf : 96). Ma’na berkah pada ayat ini menurut ahli tafsir adalah “bertambahnya kebaikan” diberikannnya kesejahteraan dan kemakmuran serta kepastian hukum sehingga manusia merasakan aman, nyaman dan, ending akhirnya adalah kesejahteraan dan kebahagiaan.

Allahu A’lamu bis-shawab.

(Syamsuddin Arfah, S.Pd.I, M.Si)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY