CINTA DAN AFILIASI

0
5912

Saya ingin mengajak anda untuk mendalami kisah Hathib bin Abi Baltha’ah RA, beliau adalah sahabat Nabi yang ikut hijrah, beliau juga mengikuti perang Badar, namun beliau memiliki anak-anak, sanak kerabat dan harta di kota Mekkah yang ia tinggalkan untuk berhijrah. Ketika Nabi Saw di perintahkan untuk membuka kota Mekkah dan memerangi orang-orang musyrikin di sana, Hathib merasa kasihan kepada orang-orang Quraisy di Mekkah. Hathib pun berinisiatif untuk berkomunikasi dengan kaum Quraisy secara diam-diam melalui surat yang dikirimkan melalui seorang wanita. Hathib mengabarkan kedatangan pasukan kaum Muslimin untuk menyerang kaum Quraisy di Mekkah. Bukan karena Hathib berkhianat dan bukan karena ia munafik, namun karena ia kasihan kaum Quraisy dan berharap mereka mau dirangkul untuk memeluk Islam daripada mereka hancur binasa. Namun para sahabat memergoki wanita yang membawa  surat dan melaporkan hal ini kepada Rasulullah. (Tafsir Ibnu Katsir 8/82 dan sebagai asbabun nuzul turun nya ayat pada surah Al-Mumtahanah ayat: 1).

Kisah Hathib sebenarnya cukup panjang di ulas dalam tafsir Ibnu Kastir saya hanya mengambil dari penggalan kisahnya, dari kisah Hathib tentu banyak pelajaran dan ibrah dan saya pun lagi-lagi hanya ingin mengambil satu ibrah penting untuk kita renungkan dan dalaminya yaitu: “tindakan Hathib bin Abi Baltha’ah yang notabene adalah seorang muhajirin dan ahli Badar yang di istimewakan Allah dengan ampunan Nya, semakin memperjelas sisi kemanusiaan manusia, sebagai seorang sahabat sekalipun terjadi penyimpangan terhadap diri seorang Hathib, pada saat dimana ia seharusnya berada puncak keimanan. Namun pada kondisi tertentu ia menjadi lemah dan lunglai dan tak ada yang dapat menjaga kondisi jiwa yang demikian kecuali hanya Allah semata yang maha menolong.

Apa yang di alami oleh Hathib adalah karena factor cinta dan sayang. Kebanyakan orang memandang cinta adalah lambang dari tergugahnya perasaan, simbol dari keindahan, indah karena sering tidak bisa di terangkan dengan logika, gemuruh jiwa tanpa bisa di definisikan, tidak terlihat tapi terkadang keberadaanya bisa bertentangan dengan logika, berbunga-bunga terkadang si pelakunya tampak tidak rasional, dia bagian dari ekspresi jiwa dan tambatan hati.

Cinta adalah bagian dari sisi unik kemanusiaan, dia adalah anugerah kehidupan yang terindah dari yang Maha kuasa pada satu sisinya, tetapi di sisi yang lain, bisa menyebabkan kita yang memiliki “cinta dan sayang”  menjadi tidak obyektif, tidak netral tersandera dalam bersikap bahkan bisa mengalahkan rasionlitas dari intelektual kita. Iman kepada Allah dan militansi ke-Islaman menuntuk pengorbanan dan perjuangan, pada tingkat aplikasinya iman dan Islam sering di pertentangkan dengan nilai-nilai cinta kita sebagai mahluk yang saya sebutkan tadi diatas adalah sebagai anugerah dan karunia, Iman dan Islam menuntut apiliasi dan loyalitas dan pada aspek ini, disinlah ujian nya.

Ucapan Buya Hamka sarat makna tentang cinta: ”Tetapi, cinta itu adalah cinta. Berkemungkinan apa yang kamu sayangi atau cintai tersimpan keburukan di dalamnya dan berkemungkinan apa yang kamu benci tersimpan kebaikan di dalamnya”.  Pada kesempatan yang lain Buya Hamka juga mengatakan: “jika memandang dengan pandangan cinta, menutup pandangan hati untuk melihat keburukan pada yang lain, dan jika memandang dengan pandangan benci, menutup pandangan hati untuk melihat kebaikan pada yang lain”.

Allah berfirman: ….”boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu…” (QS: Al-Baqarah: 216) (lihat tafsir shafwatu tafasir : Muh . Ali As-Shabuni).

Cara pandang seorang muslim tentu adalah syariat (Al-Qur’an dan As-Sunnah) karena itu adalah kebenaran absolut, bukan kebenaran yang sifatnya relatif. Betapa sering mendapati fenomena seorang muslim lebih membelakangi aspek syariat, dan lebih mengutamakan aspek “kepentingan” dan pragmatis dalam menentukan bahkan mengambil pada sikap kehidupan nya, Iman dan Islam menjadi “tergadaikan” hanya untuk mengedepankan kepentingan jabatan, kedudukan, golongan, kepartaian, dan lain-lain, afiliasi (intima’) dan loyalitas (wala’) terhadap iman dan Islam menjadi terkalahkan.

Saya ingin mengajak anda untuk berselancar pada kisah Nabiyullah Ibrahim dan Ismail, kisah yang teramat sering kita mendengarkan dan bahkan membahasnya, bagaimana pengorbanan Ibrahim untuk membuktikan kecintaannya kepada Allah dengan berintima’ (berafiliasi) terhadap perintah Allah rela untuk mengorbankan anaknya Ismail As, dan bagaimana Ismail untuk tunduk dan patuh terhadap perintah Allah, sekalipun harus mengorbankan dirinya. Itulah cinta, itulah intima’ (afiliasi) dan itulah loyalitas.

Kita mendapat taushiyah dari yang bergelar “Sang Murabbi” KH. Rahmat Abdullah, ketika menjelaskan tentang da’wah dan dikaitkan dengan cinta: “Da’wah adalah cinta dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu, sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang da’wah. Tentang umat yang engkau cintai.”

“Lagi-lagi  memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentahmu. Tubuh yang luluh lantah di seret-seret. Tubuh yang hancur lebur di paksa berlari”. Allahu Akbar- betapa menyentuhnya…

Saya ingin mengajak anda untuk berselancar lagi kepada kisah seorang sahabat yang bernama Hanzhalah, kisah Hanzhalah memperkuat tulisan saya ini, untuk perpaduan dan kombinasi apik antara cinta dan apiliasi, Hanzhalah sang mujahid, sang pengantin satu malam, baru merasakan dan menikmati ranjang pengantin, juga masih dalam suasana yang masih junub (karena belum sempat mandi junub, setelah menikmati kehangatan kamar pengantin di malam pertama,  telah bangkit menentang senjata menyusul Nabi shallahu’alahi wasalam menyusun barisan pasukan, menyusun barisan hati untuk dijual di jalan Allah. Hanzhalah turun ke pasar surga dan peperangan pun mulai berkecamuk.

Diawal perang, kemenangan pun sudah tampak dalam genggaman. Akan tetapi manakala para pemanah beranjak dari pos mereka, manakala penjual berubah menjadi pembeli maka timbangan perperangan pun berbalik, orang-orang musyrik merangsek maju dengan barisannya yang kuat. Hanzhala masih terus membuktikan cintanya yang besar kepada Allah, dan dia benar-benar membuat kita malu. Dia maju kearah Abu Sufyan bin Harb, mematahkan kaki kudanya dan membuat Abu Sufyan terpelanting  jatuh ke tanah. Dalam situasi seperti itu, datanglah Syaddan. Maka syaddan pun berhasil membunuh sang pemilik hati yang suci dengan sebilah tombak yang menghantam tubuh Hanzhalah.

Hanzhalah radhiallahu’anhu pergi meninggalkan kita, meninggalkan darah yang harum, meninggalkan pelajaran tentang pengorbanan seorang hamba kepada Allah Subhana Wa Ta’ala. Membangunkan jiwa yang tertidur dan melecut  semangatnya. Mengajarkan bagaimana menunggang kuda-kuda syahadah dan membuang kuda-kuda khayalan. Itulah penggalan kisah Hanzhalah.

Afiliasi itu meminta perhatian mu, meminta pengorbanan mu, meminta hati mu, meminta jiwa mu, meminta hartamu, meminta jabatan dan kedudukan mu, meminta keluargamu, bahkan meminta dirimu.

Allahu A’lamu bis-Shawab.

H.Syamsuddin Arfah, S.Pd.I, M.Si

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY