BERAMAL DENGAN PENUH KEYAKINAN

0
871

Ali bin Abi Thalib Radhiallahu Anhu   berkata: “Seandainya agama itu berdasarkan akal, tentu mengusap khuf  (kaos kaki)  bagian bawah lebih utama daripada mengusap bagian atasnya.  Dan sungguh aku pernah melihat Rasulullah mengusap bagian atas khufnya.” (HR. Abu Daud dengan sanad hasan)

Ucapan Ali bin Abi Thalib ingin untuk menegaskan bahwa agama “syariat”, tidaklah semata berlandaskan kepada akal atau aspek rasional. Logika terkadang diminta tunduk pada hal yang berkaitan taabbudiyah/ibadah dan pengabdian.

Seandainya aspek lahiriyah lebih utama dibanding aspek bathiniyah, maka apalah artinya “tayammum” yang hanya merupakan” isyarat” menepuk wajah dan telapak tangan dengan debu ketika ingin menunaikan shalat atau ibadah sebagai pengganti dari berwudhu dan mandi wajib.

Ini memberikan arti dan pengertian bahwa hati dan jiwa lebih utama daripada fisik, keindahan dan pesona hati lebih didahulukan daripada penampilan luar, ketulusan niat lebih utama dari penampilan dan sekedar casing.

Dari Abu Hurairah Abdu Rahman bin Syahrin Radiyallahu Anhu Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada fisik-fisik kamu, dan tidak juga pada rupa dan penampilan kamu, tetapi yang Allah lihat kepada hati dan amal kamu” (HR. Muslim).

Kalaulah keturunan dan kasta lebih utama, tentulah tidak terdengar terompah Bilal disurga, Rasul yang mulia berkata: “ Hai Bilal amalan apa yang engkau kerjakan sehingga aku mendengar terompahmu disurga, lalu Bilal menjawab: ”Wahai Rasulullah, tidaklah sekali-kali aku mengumandangkan adzan, melainkan terlebih dahulu aku melakukan shalat dua rakaat dan tidak sekali-kali aku mengalami hadast, melainkan aku berwudhu. Sesudahnya  kemudian aku mengerjakan shalat dua rakaat sebagai kewajibanku kepada Allah”.

Kesan yang terdalam dari dialog dan komunikasi baginda Nabi SAW kepada Bilal adalah:

  1. Agama itu tidak memandang kepada kasta dan keturunan, Bilal bin Rabbah adalah berkebangsaan Habsyah (sekarang Ethiofia) berkuli hitam legam dan berambut kismis serta keturunan budak.
  2. Keturunan bangsawan, hartawan bukanlah jaminan mendapatkan posisi terhormat dan mulia dihadapan Allah, bahkan sebaliknya jika atribut serta aksesoris” kedudukan dan keturunan” membuat keangkuhan dan kesombongan menjadikan manusia terhina dihadapan Allah.
  3. Amal dan konsistensi “istimrariyah/continuetas” sebagai penentu hasil dihadapan Allah.

Keringat dan perjuangan, tangis dan doa bagi bagi si pegiat da’wah, bukanlah hanya suatu kemestian saja tetapi merupakan jalan yang harus dilalui, itulah makna tersirat dari tawaran pemuka Quraisy, diantara pemuka Quraisy yang datang dan menjumpai Nabi untuk melakukan negosiasi adalah Uthbah bin Rabiah, Walid bin Mughirah dan al-Ash bin Wail agar berhenti dalam da’wah, pemuka Quraisy itu juga datang bertemu dengan Abu Thalib paman Nabi agar membujuk Muhammad Rasululuah untuk menghentikan da’wahnya dengan kompensasi dan tawaran, berupa:

  1. Menjadikan Muhammad sebagai Raja Bangsa Arab
  2. Memberikan harta dan kekayaan
  3. Mengobati serta menganggap Muhammad kerasukan Jin
  4. Memilihkan wanita tercantik untuk dinikahi.

Beberapa tawaran pemuka Quraisy disikapi dengan bijaksana, bahkan dengan beruraian air mata, Nabi meyampaikan curahan hatinya dihadapan pamannya Abu Thalib, dengan pernyataan:

“ Wahai pamanku, seandainya matahari berada di genggaman tangan kananku dan bulan berada di genggaman tangan kiriku, agar akau menghentikan da’wah ini, aku tidak akan menghentikannya ataukah aku mendapatkan kemenangan dengan da’wah itu atau aku hancur bersamanya”.

Pertanyaan menusuk dibenak hati, mengapa Rasulullah tidak menerima tawaran pemuka Quraisy itu, bukankah dengan kedudukan sebagai Raja Arab, serta kekayaan yang luar biasa da’wah akan bisa dijalankan dan dikembangkan?

Dibalik air mata Rasulullah  memberikan I’tibar dan jawaban :

  1. Da’wah itu perlu diusahakan, diperjuangkan dan merupakan sunnatullah dengan keringat, air mata, do’a dan bahkan darah itulah jalan da’wah para Nabi dan para Rasul.
  2. Seandainya beberapa tawaran diterima oleh Nabi, asumsi akan dikembangkan bahwa motif Muhammad berda’wah adalah untuk kekuasaan dan kekayaan.
  3. Seandainya juga tawaran berupa kedudukan serta kekayaan diterima, maka kita tidak akan pernah mendapatkan contoh, qudwah serta uswatun hasanah dan manhaj yang jelas, karena da’wah dilalui dengan cara mudah bertaburkan bunga ditaman yang indah.

Kalaulah senioritas itu lebih dikedepankan ketimbang keahlian dan professional, tentulah kita tidak mendapatkan Khalid bin Walid akan diangkat menjadi panglima perang, padahal dia baru saja masuk Islam, sahabat-sahabat utama yang tergolong “assabiqunal awwalun/generasi terdahulu”  serta sahabat –sahabat  mulia yang dijamin masuk surga tidak mendapat pilihan, pilihan itu diberikan kepada orang yang baru masuk Islam, dialah yang mendaptkan gelar “pedang Allah yang terhunus”.

Pengangkatan Khalid bin Walid menjadi panglima perang memberikan ibrah bagi kita:

  1. Jabatan strategis diberikan kepada orang-orang yang memiliki keahlian serta professional.
  2. Professional dan keahlian akan menberikan dampak yang besar serta ekses yang besar bagi publik, bukan hanya kesejahteraan tetapi juga keselamatan akhirat.
  3. Memberikan jabatan bukan pada ahlinya akan berdampak kepada kehancuran.

Jika kematangan usia  lebih utama tentulah Rasul tidak menunjuk kepada Usamah bin Zaid menjadi panglima perang, walau penunjukan Usamah bin Zaid menjadi panglima belum terlaksana dan Rasulullah  wafat. Para sahabat senior ada yang memprotes atas penunjukan panglima perang tersebut, diawal kekhalifaan Abu Bakar, melanjutkan pesan Rasulullah untuk menjadikan Usamah bin Zaid menjadi panglima perang adalah prioritas utama bagi khalifah Abu Bakar. Usamah menjadi pnglima dia memimpin peperangan dan lalu mencapai kemenangan.

Benang merah merakit semua hal yang tertulis diatas adalah” KEYAKINAN”, keyakinan itulah yang menjadikan kita” TSIQAH/PERCAYA”, dan kepercayaan ‘tsiqah” mengantarkan kita untuk “BERAMAL”, beraktivitas dan berjuang, itulah sebagai nilai yang memberikan posisi “keutamaan” dihadapan Allah.

Allahu A’lamu Bi-Shawab

(Syamsuddin Arfah, S.Pd,I.M.Si )

Bendahara Umum DPW PKS Kaltara

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY