Antara Visi dan Kemampuan Mengekspansi Anggaran

0
415

Sebagaimana diketahui bersama, pada tahun anggaran 2016 yang kita jalankan dan sekarang sudah berada di penghujung tahun, kondisi ini di prediksikan juga berlanjut di tahun 2017, tantangan perekonomian berjalan terasa lambat dan berat baik secara nasional, provinsi  hingga tidak terkecuali berdampak juga ke local, yaitu Kota Tarakan.

Pemerintah Kota Tarakan yang dinahkodai oleh Walikota Tarakan, tentu memiliki visi dan misi yang sudah tertuang pada RPJMD, serta breakdown nya pada RKPD (rencana kerja perangkat daerah) untuk rencana kerja tahunan, sebagaimana yang diketahui bahwa sebaik apapun visi dan misi Pemerintah Kota, tentu tidak akan berjalan dengan baik jika tidak didukung oleh anggaran yang memadai, pemimpin atau seorang leader sungguh pun dia seorang visioner, tentu juga akan bergantung dengan kemampuan bagaimana cara dia dalam mengekspansi anggaran, karena “visi” tanpa “anggaran” bagaikan seseorang yang memiliki “mata” tetapi tidak memiliki “kaki”, dan “anggaran” tanpa “visi” yang tepat bagaikan seseorang yang memiliki “kaki” tanpa mempunyai “mata”. Sungguh pun kondisi ekonomi terasa sangat berat pembangunan di Kota Tarakan tetap harus berjalan, jangan sampai pembangunan berjalan dengan lambat, atau bahkan terhenti  (stagnan) karena terbelenggu dan tersandera dengan keterbatasan anggaran.

Di bulan Desember ini, Kota Tarakan baru saja merayakan hari jadi nya yang ke 19, dengan tema atau tagline pembangunan: “Dengan kerja ikhlas, kerja cerdas, kerja tuntas, didukung penyelenggaraan pemerintahan yang baik, transparan, inovatif, dan menjunjung tinggi norma hukum serta nilai-nilai persatuan dan kesatuan kita wujudkan Tarakan, sebagai Kota Perdagangan, Jasa, Industry, Perikanan dan Pariwisata yang di dukung oleh Sumber Daya Manusia serta Infrastruktur yang handal dan berwawasan lingkungan”. Tema dan tigeline pembangunan yang di jadikan sebagai motto kerja ini tentu sangat baik, harapan kita agar slogan dan motto diatas bukan hanya sebatas narasi yang normative, tetapi lebih dari itu dijadikan sebagai semangat dan acuan kerja.

Marilah kita masuk pada substansi Rancangan Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Tarakan Tahun 2017 untuk kita analisa dan bahas dari aspek esensi maupun perspektif substansi:

  1. Pendapatan

Target Pendapatan Daerah pada Tahun Anggaran 2017 di proyeksikan sebesar Rp. 1,022 Trilyun lebih, yang terdiri dari komponen Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan dan Lain-Lain Pendapatan yang Sah.

Terkait pada aspek Pendapatan, kita ingin memberikan beberapa saran dan masukan agar sumber-sumber pendapatan bisa meningkat, tentu juga sangat berkait pada kemampuan mengekspansi dan mengeksekusi sumber-sumber anggaran, dan itu tidak bisa dilakukan oleh seorang diri Walikota, atau Wakil Walikota, atau juga bersama dengan Sekda, kerjasama stakeholder baik eksekutif, legislative maupun sector swasta sangat mempengaruhi kemampuan mengekspansi anggaran secara signifikan, saran dan masukan kita terhadap Walikota atau Pemerintah Kota Tarakan:

  1. Menempatkan Kepala SKPD atau Kepala Dinas, yang tidah hanya memenuhi pangkat dan eselonnya saja, atau dari aspek leader nya yang mumpuni serta manajemen kerja nya saja yang bagus, tetapi dalam kondisi anggaran yang deficit saat ini, Kepala SKPD harus juga punya kemampuan untuk melobi dan mengekspansi anggaran dari pusat yang bisa dibawah ke daerah, kita juga memahami pendukung anggaran yang berkaitan dengan koordinasi ke pusat, anggaran yang di alokasikan sangat kecil dan tentu sangat berbeda, turun jauh dari Tahun Anggaran sebelumnya, kondisi ini harus mampu di atasi oleh kepala Dinas, Kepala SKPD harus mampu serta berani berkorban, untuk melakukan perjalanan dinas yang bersifat koordinasi dan loby walaupun tanpa di dukung oleh SPPD (surat perintah perjalanan dinas) yang tidak di alokasikan pada anggaran dari APBD.
  2. Walikota dan DPRD Kota Tarakan harus selalu serta intens berkoordinasi serta duduk satu meja, untuk melobi anggaran dari pusat, baik anggaran yang bersumber dari Kementerian, maupun dari anggaran DPR-RI, karena DPRD Kota Tarakan tentu punya koneksi serta keterkaitan dengan DPR-RI, dikarenakan mereka secara hirarki mempunyai ikatan kepartaian, jika ini dilakukan maka sumber-sumber anggaran akan terbuka, yang terpenting lobi dan ekspansi ini bukan bersifat spekulatif tetapi keberadaan nya lebih pasti.
  3. Memfasilitasi serta menggerakan sector riil, yaitu UMKM (usaha mikro kecil dan menengah), jika sector ini bergerak dan berjalan dengan baik, apalagi usaha kecil dan menengah maupun PKL (pedagan kaki lima) mampu diperkuat keberadaannya, maka sungguh-pun ekonomi global serta ekonomi local dalam kondisi yang tidak stabil, perekonomian Kota Tarakan tetap akan berjalan dengan survive dan stabil.
  4. Pembangunan yang melibatkan masyarakat, baik swadaya maupun swadana, artinya pembangunan tidak harus bergantung kepada anggaran dari Pemerintah, masyarakat jika di berdayakan tentu akan terbentuk kesadarannya, untuk berpartisipasi terhadap Pembangngunan Kota, ada contoh menarik di Kelurahan Karungan (mamburungan timur), dimana masyarakat melakukan swadaya dan swadana untuk membangun sebuah jembatan penghubung dua RT, serta pemghubung dua masjid, anggaran jembatan di rencanakan sebesar 1 milyar, melalui partisipasi masyrakat ,tanpa bantuan dan menunggu anggaran dari Pemerintah, masyarakat bergotong royong untuk mewujudkan terlaksana nya jembatan penghubung.
  5. Belanja

Adapun Rancangan Anggaran Belanja Daerah dalam Tahun Anggaran 2017 direncanakan sebesar, Rp.1,198 Trilyun lebih, untuk aspek belanja ini, ada beberapa hal yang ingin kami kemukakan, untuk menjadi perhatian bersama, yaitu:

  1. Komposisi belanja tidak langsung untuk Rancangan Anggaran Belanja Tahun 2017 dialokasikan sebesar 441 Milyar. Serta Rancangan Anggaran Belanja Langsung di alokasikan sebesar Rp. 757 milyar, menurut analisa kami, jika dilihat sekilas akan terkesan Belanja Langsung atau belanja public jauh lebih besar jika di perbandingkan dengan Belanja Tidak Langsung atau belanja pegawai dengan komposisi prosentase mencapai 37% untuk Belanja Tidak Langsung, dan 63% untuk Belanja Langsung, jika di analisa dari permukaan nampak ideal.
  2. Anggaran Belanja Langsung (belanja public), yang diperuntukan untuk anggaran pembangunan menurut kami berdasarkan pada pengalaman Tahun Anggaran 2016, ada yang keberadaan anggaran nya hanya bersifat “semu” , kenapa kita katakan seperti itu? di karenakan, program -kegiatan nya ada tertera pada SKPD dan anggran nya tercatat pada DPA Anggaran APBD, tetapi ketika pencairan dana nya tidak tersedia pada kas keuangan daerah, ini yang kita istilahkan nya dengan sebutan yang bersifat “semu”, dimana program dan kegiatan tertera dan tersebut jelas pada masing-masing SKPD, dan anggaran nya tercatat pada DPA APBD, tetapi kas anggaran tidak tersedia.

Pemerintah Kota Tarakan memberikan penjelasan terkait hal tersebut diatas, lebih dikarenakan terlambat nya transferan pada termin akhir dari Anggaran Pusat dan juga terjadi keterlambatan pentransferan dari Pemerintah Provinsi.

  1. Anggaran Pelayanan Dasar pada aspek “pendidikan”, untuk kondisi anggaran saat ini, kita sangat memahami dengan keterbatasan dan minim nya anggaran,  agak sulit untuk mengalokasikan anggaran pendidikan 20% dari APBD sesuai amanah undang-undang  sisdiknas, tetapi hal-hal yang bersifat mendasar seperti pengadaan meubeler sekolah belum bisa dianggarkan sesuai kebutuhan siswa, dimana pembangunan sekolah sudah selesai pembangunan nya di kerjakan, dan selanjutnya untuk pengadaan meubeler belum bisa di laksanakan, dan ini pasti kedepan nya akan berdampak pada penerimaan siswa baru, begitu juga pada operasional sekolah serta peningkatan kapasitas dan kompetensi guru, sungguh kita sangat tersandera dan terbelenggu dengan minim nya anggaran, lalu bagaimana untuk kedepan nya untuk peningkatkan SDM sesuai dengan motto dan slogan pembangunan, sehingga kedepan dengan keterbatasan anggaran pendidikan, minimal ada dua hal yang harus di lakukan baik oleh Pemerintah Kota Tarakan, maupun stakeholder pendidikan:
  2. Melakukan pendekatan kepada Kementrian Pendidikan, agar kekurangan meubeler sekolah bisa di akomodir dalam bentuk bantuan seperti DAK (dana alokasi khusus), Operasional pendidikan, subsisi pendidikan kepada orang yang tidak mampu, dan juga peningkatan kapasitas serta kompetensi guru, dan lain-lain.
  3. Bekerja sama dengan orang tua siswa serta masyarakat yang mempunyai kepedulian terhadap pendidikan, karena berbicara tentang pendidikan adalah merupakan tanggung jawab kita bersama, tidak hanya di bebankan kepada Pemerintah saja.
  4. Aspek Belanja Kesehatan, tentu sector kesehatan juga merupakan pelayanan dasar, tetapi jika kita menganalisa ketersediaan anggaran Rumah Sakit Daerah Kota Tarakan, membuat kita menjadi sangat prihatin karena minim bahkan sangat jauh dari ketersediaan anggaran operasional, untuk idealnya sebuah Rumah Sakit bisa berjalan dan beroperasi, padahal Rumah Sakit Umum Daerah Kota Tarakan akan berjalan dan beroperasi pada Tahun Anggaran 2017, begitu juga jika menganalisa pada alokasi anggaran obat-obatan yang merupakan kebutuhan wajib yang harus di sediakan Pemerintah Kota tarakan untk masyarakat, dan lain-lain yang di perhatikan secara seksama sangat menurun.
  5. Anggaran untuk akses jalan daerah-daerah pinggir Kota Tarakan maupun daerah pesisir, seperti pantai amal, masih belum maksimal padahal kondisi jalan yang di lalui oleh masyarakat pantai amal sangat memprihatinkan, aspirasi dan jeritan masyarakat berulang kali tersampaikan melalui wakil rakyat, apakah kondisi ini juga untuk Tahun Anggran 2017 belum bisa teratasi, jika tidak bisa teratasi apa alasan dari Pemerintah Kota.

Mendengar jawaban dan penjelasan Pemerintah Kota Tarakan, bahwa akses jalan pantai amal, masuk dalam anggran proyek ringroad yang pekerjaan nya masuk dalam bentuk multi yaers (pekerjaan tahun jamak) yang sudah dilakukan pelelangan, bahkan sudah masuk pada penandatanganan kontrak pekerjaan, untuk hal ini kita mensupport Pemerintah sekaligus mengapresiasi, dikarenakan Pemerintah Kota bersama DPRD Kota Tarakan melakukan keberpihakan terhadap aspirai dan kebutuhan masyarakat.

  1. Penyediaan air bersih dalam bentuk penyediaan air baku untuk PDAM masih menjadi kendala, belum lagi pada target prosentase penyambungan rumah tangga Kota Tarakan belum tercapai, padahal ini adalah kebutuhan serta menjadi prioritas dari pemerintah Kota Tarakan.

Mendapat penjelasan dari Walikota, saat ini dua embung sedang di bangun untuk persiapan ketersediaan air baku, dan target penyambungan rumah tangga untuk tahun 2017, diperkirakan akan tersambung 10.000 rumah, harapan kita agar persoalan ketersediaan dan ketercukupan air baku, dan akses masyarakat untuk terpenuhinya air bersih makin meningkat tajam.

  1. Persoalan kelistrikan, masih mendera untuk Kota Tarakan yang tercinta, permaslahan inti dari kelistrikan Kota Tarakan, bukan pada mesin pembangkit atau hal lain, tetapi persoalan utama adalah karena kekurangan suplay energy, kebergantungan dari Pertamina Bunyu dalam mensuplay energy gas, saat ini bukan hanya sebagai penopan saja, tetapi lebih dari itu, suplay energy gas dari Pulau Bunyu menjadi tulang punggung (backbond), serta di bantu suplay dari PT.Idek Tarakan dalam bentuk ekses power, MKI yang di harapkan bisa gas-in, ternyata sampai saat ini masih jauh dari harapan, mendengar penjelasan dari PLN Tarakan sesungguhnya pada beban puncak Kota Tarakan, terjadi kekurangan energy listrik 7,5 MW, dan solusinya dalam waktu yang cepat diharapkan sudah bisa di bangun PLTD sebesar 15 MW, serta melakukan scheduling serta time line untuk rencana kelistrikan jangka pendek dan jangka menengah.

Kita menjadi terharu mendengarkan penjelasan dari Walikota Tarkan, bahwa berbicara listrk kita sangat sungguh-sunguh, baru satu nikmt dari Allah di uji, kita semua sudah kesulittan dan kerepotan, gimana jika ada ujian yang lain, baik masalah air, dan lain-lain.

  1. Pembiayaan

Rencana Anggaran penerimaan pembiayaan pada tahun anggara 2017 sebesar Rp.188 milyar, Nilai ini merupakan penerimaan pinjaman daerah, untuk hal ini kami memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Tarakan, karena pinjaman ini juga untuk digunakan pada penanganan dan penanggulangan banjir di Kota Tarakan, dan hal itu menunjukan keseriusan pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan Kota Tarakan dari aspek banjir.

Aspek lain juga yang perlu kita apresiasi adalah pada Jargas (jaringan gas) untuk target penyambungan sebanyak 21.000, sambungan rumah tangga yang sudah terlaksana, walaupun masih ada persoalan berupa perbaikan dari penggalian pipa-pipa gas yang masih belum sempurna seperti semula. Yang  lebih penting kedepan  harga gas rumah tangga tidak terjadi kenaikan, agar bisa terjangkau untuk kalangan rumah tangga menengah kebawah.

Pada bidang lain yang perlu di apresiasi juga adalah, selesai terlaksananya “Taman Berlabuh” yang menjadi icon pariwisata baru, yang berlokasi di Jembatan Besi (Kelurahan Lingkas Ujung), untuk kedepan nya mudah-mudahan Taman Berlabuh ini bisa terawat kebersihan nya, juga asset –aset yang ada di dalam nya

Allahu A’lamu bi-Shawab

H.Syamsuddin Arfah, S.Pd.I, M.Si 

( Wakil Ketua Komisi II DPRD Kota Tarakan )

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY